Sejarah dan Gelora Magis Barongan dari Hutan Jati Blora: Legenda Gembong Amijoyo Hingga Simbol Perlawanan
Mengkaji asal-usul sejarah, mitologi Hikayat Panji, karakter Singo Barong Gembong Amijoyo, peran Samin Surosentiko, serta keunikan pertunjukan Seni Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Sejarah dan Gelora Magis Barongan dari Hutan Jati Blora: Legenda Gembong Amijoyo Hingga Simbol Perlawanan
Derap langkah kaki para penari mengguncang tanah, diiringi suara saron, kendang, dan terompet yang melengking magis membelah sunyinya kawasan Hutan Jati Blora. Dari balik kepulan asap kemenyan yang samar, sesosok topeng raksasa berwujud harimau dengan mata kelereng kaca yang menyala pekat serta mahkota ijuk hitam lebat muncul dengan gerakan yang sangat gagah sekaligus mengintimidasi. Itulah Singo Barong, tokoh sentral dalam pertunjukan Seni Barongan Blora—sebuah warisan kebudayaan takbenda yang menjadi denyut nadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Bagi warga Blora, Barongan bukan sekadar pertunjukan seni tari kerakyatan biasa. Di dalamnya tersimpan jalinan mitologi Jawa kuno, sejarah perjuangan rakyat jelata menghadapi penindasan kolonial, serta representasi watak asli masyarakat Blora yang spontan, berani menegakkan kebenaran, kompak, dan penuh semangat kekeluargaan.
Mitologi Hikayat Panji: Perseteruan di Hutan Wengker
Akar sejarah dan kosmologi Seni Barongan Blora bersumber dari lakon Hikayat Panji yang sangat melegenda di Tanah Jawa. Kisah ini bermula ketika Prabu Klana Sawandana, Raja Kerajaan Bantarangin, jatuh hati pada kecantikan Dewi Sekartaji (Putri Galuh Candra Kirana) dari Kerajaan Kediri. Untuk meminang sang putri, Prabu Klana mengutus Patih agungnya yang sakti mandraguna namun bertampang unik, yaitu Patih Bujangganong (Pujonggo Anom), bersama rombongan prajurit penunggang kuda (Jathilan).
Dalam perjalanan melintasi belantara hutan belantara yang angker—yang dalam tradisi Blora diidentikkan dengan Hutan Jati Wengker—rombongan Bantarangin dicegat oleh penguasa gaib hutan tersebut: Singo Barong.
Siapakah Gembong Amijoyo?
Dalam dongeng rakyat Blora, sosok Singo Barong merupakan wujud manifestasi dari Adipati Gembong Amijoyo, seorang ksatria sakti penjaga perbatasan hutan jati. Gembong Amijoyo dikisahkan berwujud harimau raksasa yang di atas kepalanya hinggap seekor burung merak yang sedang memamerkan keindahan bulunya.
Pertempuran sengit pun tak terhindarkan antara Bujangganong dan Singo Barong. Suasana semakin bergejolak ketika hadir sosok Joko Lodra (saudara seperguruan Gembong Amijoyo yang berpihak pada Kerajaan Jenggala) serta penunggang kuda prajurit. Pertikaian fisik dan adu kesaktian inilah yang menjadi inti cerita dramatik yang divisualisasikan dalam tarian Barongan Blora hingga hari ini.
Adaptasi Properti: Dari Bulu Merak Menjadi Ijuk Hutan Jati
Salah satu keunikan utama yang membedakan Barongan Blora dengan Reog Ponorogo terletak pada bahan pembuat topeng dan mahkotanya (dadak merak).
Pada abad ke-19, ketika masyarakat Blora hendak melestarikan seni pertunjukan ini di pedalaman hutan, mereka kesulitan untuk mendapatkan pasokan bulu merak asli dalam jumlah besar sebagaimana di Ponorogo. Dengan kearifan lokal yang cerdas, para seniman Blora mengganti deretan bulu merak tersebut dengan ijuk pohon aren dan serat kayu hutan jati yang dianyam lebat berwarna hitam pekat, dengan sedikit sentuhan bulu merak di bagian puncaknya.
Modifikasi ini justru melahirkan karakter khas Barongan Blora yang amat memikat:
- Mata Kelereng Kaca: Topeng Singo Barong Blora menggunakan kelereng kaca besar (kelendhi) sebagai matanya. Ketika terpapar cahaya malam hari, mata ini memantulkan kilatan yang melambangkan ketajaman penglihatan, kewaspadaan, dan keberanian tanpa kompromi.
- Kesan Sangar dan Magis: Mahkota ijuk hitam yang melambai-lambai saat penari memutarkan kepalanya memberi nuansa mistis yang sangat kental, seolah sang Harimau Jati benar-benar bangkit dari kedalaman belantara.
- Rahang Kayu Mengerak (Caplokan): Bunyi plok-plok-plok yang dihasilkan dari tepukan rahang kayu topeng Barongan menjadi irama pemanggil semangat penonton yang sangat khas.
Barongan Sebagai Media Perlawanan Samin Surosentiko
Tidak banyak yang menyadari bahwa Seni Barongan Blora memiliki keterkaitan sejarah yang amat erat dengan gerakan perjuangan Samin Surosentiko pada era penjajahan Belanda (akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20).
Setelah Samin Surosentiko bertualang dan menyerap kebudayaan pedalaman di wilayah Sumoroto, beliau melihat potensi besar seni Barongan sebagai media konsolidasi massa. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda melarang keras adanya kumpul-kumpul politik atau rapat rakyat yang mencurigakan. Untuk menyiasati larangan tersebut, Samin Surosentiko dan para pengikutnya menggunakan pertunjukan Barongan sebagai camouflaged gathering (penyamaran).
Ketika saron dan kendang digemuruhkan di lapangan desa, ratusan warga dari berbagai penjuru hutan jati akan berbondong-bondong datang menonton. Di sela-sela pertunjukan tarian yang memukau tersebut, Samin dan para tokoh adat menyisipkan pesan-pesan moral, ajakan untuk hidup mandiri, menolak membayar pajak kolonial, serta membakar semangat perlawanan tanpa kekerasan melawan kezaliman penjajah. Barongan pun bertransformasi dari sekadar hiburan rakyat menjadi simbol ketahanan budaya dan alat perjuangan politik rakyat Blora.
Nilai Sosial, Ritual Lamporan, dan Pengakuan Nasional
Bagi masyarakat Blora hingga detik ini, Kesenian Barongan memegang peranan penting dalam kehidupan sosial budaya. Selain menjadi sarana hiburan pada pesta pernikahan, khitanan, maupun hari jadi kabupaten, Barongan juga dilibatkan dalam ritual adat seperti Lamporan (ritual tolak bala untuk mengusir wabah penyakit dan hama tanaman) serta Sedekah Bumi (bersih desa).
Dalam ritual Lamporan, rombongan Barongan dikuasai oleh nuansa magis. Mereka mengelilingi batas-batas desa pada malam hari sembari membawa obor api untuk menyucikan desa dari energi negatif. Masyarakat percaya bahwa karakter tegas Singo Barong sanggup menakuti roh jahat dan membawa keselamatan bagi warga.
Atas keunikan nilai sejarah, artistik, dan filosofisnya, pada tahun 2009 pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Seni Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Penetapan ini semakin mengukuhkan Blora sebagai Kota Barongan, tempat di mana legenda Hutan Jati terus hidup dan bergerak mengikuti zaman.
Menjaga Api Kesenian di Era Modern
Kini, pertunjukan Barongan Blora terus mengalami revitalisasi tanpa kehilangan jiwanya. Banyak grup Barongan muda yang menggabungkan instrumen gamelan tradisional dengan terompet, drum, bahkan instrumen musik modern untuk menarik minat generasi z dan milenial.
Melihat anakanak kecil di desa-desa Blora menirukan gerakan tarian Bujangganong dan menepukkan topeng caplokan buatan sendiri adalah bukti nyata bahwa warisan leluhur ini tidak akan padam. Barongan Blora adalah kisah tentang keberanian, kejujuran, dan kecintaan pada tanah air—sebuah mahakarya seni yang lahir dari kegelapan hutan jati untuk menerangi kebudayaan Nusantara.

